by Fadila Aulia Pritami
Indonesia
merupakam negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik
dunia, yaitu Euro-Asia di bagian Utara, lempeng Indo-Australia di bagian
Selatan, lempeng Filipina dan Samudera Hindia di bagian Timur sehingga menjadi
negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam tinggi seperti letusan
gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan sebagainya.
Beberapa
faktor penyebab utama timbulnya banyak korban akibat bencana gempa adalah
karena kurangnyapengetahuan dan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi
bencana tersebut.Pengetahuan mengenai penguranganrisiko bencana belum masuk ke
dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Padahal 113 negara lain yang
sudahmemasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah diantaranya
adalah Bangladesh, Iran, India, Mongolia, Filipina, Turki, dan Tonga.
Berdasarkan Hyogo Framework yang disusun oleh PBB maka pendidikan siaga bencana
merupakan prioritas, yakni Priority for Action 3: Use knowledge, innovation
and education to build a cultureof safety and resilience at all levels.
Siaga
Bencana Gempa Bumi perlu diajarkan kepada anak-anak sekolahyang didalamnya
mencakup bagaimana menyelamatkan diri mereka saat bencana mengancam dan
menghindarikecelakaan. Masyarakat Indonesia kurang mengerti apa yang harus
dilakukan ketika terjadi bencana gempa untuk mengurangi kerugian jiwa dan
benda. Berdasarkan hasil studi, bangunan sekolah dasar umumnya dibuat dengan
kurang memperhatikan kaidah dasarketahanan bangunan terhadap gempa bumi, sehingga
apabila terjadi gempa bumi maka bangunan sekolah dapatroboh dan menimpa siswa.
Korban meninggal dan luka-luka lebih sering disebabkan karena tertimpa
reruntuhan bangunan dan karena situasi panik. Maka, perlu diadakan penelitian untuk
meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kewaspadaan (awareness)
komunitas sekolah dasar terhadap bahaya gempa bumi melalui Pendidikan Siaga
Bencana Gempa Bumiuntuk sekolah dasar.Pelaksanaan program akan bermanfaat bagi
komunitas sekolahdalammengantisipasi bahaya bencana gempa bumi.
Pada
kegiatan penelitian ini SDN Cirateun dan SDN Padasuka 2 Kab Bandung telah diberikan materi
Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi dalam bentuk modul untuk Guru, selain itu diberikan
materi-materi Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi kepada siswa-siswa kelas 2
dan3 SD juga terhadap orang tua siswa.Siswa sangat antusias untuk belajar
mengenai siaga gempa bumi karena kegiatan pembelajarannya menarik terdiri dari
serangkaian kegiatan yang memerlukan partisipasi aktif siswa, seperti kegiatan
identifikasidaerah yaitu mengelilingi sekolah dan kelas sambil membuatdenah. Dalam
memahami fenomena gempa bumi, siswa dan guru melakukan percobaan dengan
menggunakanroti ibarat lapisan bumi dan saat latihan siaga gempa (earthquake drill) siswa bersama guruberlatih
masuk ke dalam kolong meja, berbaris dan keluar ke tempat evakuasi.Kemudian, peneliti
mengkonfirmasikan kepadaorang tua mereka, bahwa setelah memperoleh pendidikan
siaga bencana, siswa menceritakanpengetahuan dan kegiatan mereka dengan
keluarga di rumah.
Hasil
penelitian mengenai pendidikan risiko bencanagempa bumi yaitu bahwa siswa yang
memperoleh pendidikan siaga bencana gempa bumi memiliki peningkatanpengetahuan
mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi dan tanggap darurat. Mereka
memilikipersepsi realistik terhadap kemungkinan terjadinya bahaya. Selain itu,
siswa juga mampu berperan aktif dalam untuk memberikan informasi terhadap
keluarganya masing-masing.
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.
No comments:
Post a Comment