Sunday, April 5, 2015

Resume tentang Siaga Bencana (3)


by Rahmad Subekti


Indonesia merupakan Negara dengan tingkat rawan bencana alam tinggi. Tercatat, dari 2.866 kejadian di benua Asia, 257 kejadian terjadi di Indonesia. Tingkat kegempaan di Indonesia 10 kali lipat daripada di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara yang terdapat pada pertemuan lempeng-lempeng bumi seperti  lempeng Euro-Asia di utara, lempeng Indo-Australia di selatan, serta lempeng Filipina dan Samudera Pasifik di timur. Namun, tingginya tingkat kerawanan bencana alam tidak sebanding dengan pengetahuan masyarakat tentang ilmu pengetahuan siaga bencana alam. Sehingga jumlah korban yang diakibatkan oleh bencana alam sangat banyak, kebanyakan korbannya adalah wanita dan anak-anak yang mana mereka belum mengerti tentang pengetahuan dan sikap yang harus dilakukan ketika tengah terjadi bencana alam. Oleh karena itu diperlukan kurikulum pendidikan guna memberikan pengetahuan tanggap bencana.Hyogo Framework kurikulum siaga bencana diprioritaskan, yaitu Priority for Action 3: Use knowledge, innovation and education to build a cultureof safety and resilience at all levels.

Penelitian ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa beserta orangtua sebelum dan sesudah menerima materi Siaga Bencana. Diharapkan penelitian ini mampu memberikan kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang tanggap bencana. Pelaksanaan program Siaga Bencana akan diberikan kepada Guru dan siswa-siswa sekolah, karena gempa bisa saja terjadi ketika berada di lingkungan sekolah, yaitu ketika siswa-siswa jauh dari pengawasan orangtua mereka.

Pendekatan masalah yang digunakan berupa manajemen risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi dampak negatif akibat bencana alam, baik harta maupun nyawa. Pendekatan yang selanjutnya adalah pendekatan melalui pendidikan pengurangan risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi terjadinya bencana (seperti perlindungan terhadap banjir melalui program pengerukan sungai) atau meningkatkan kemampuan komunitas dalam merespon kedaruratan. Pendidikan tidak hanya bisa diberikan secara formal, namun juga bisa secara informal. Melalui komunitas-komunitas, berbagi pengalaman, serta menggunakan teknologi dapat memberikan ilmu kepada masyarakat.

Penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang jenis jenis variabel tanpa melakukan perbandingan atau menghubungkan antar variabel. Sehingga, dibutuhkan penelitian lapangan yang menggunakan 2 metode servey, yaitu descriptive survey dan explanatory survey. Penelitian dilakukan di SDN Cirateun dan SDN 2 Padasuka Kab. Bandung.

Hasil dari observasi yang dilakukan terhadap siswa-siswa kedua SD tersebut menerang bahwa meskipun siswa SD kelas 3 mendapatkan materi SAINS tentang bencana alam, namun mereka tidak mendapatkan materi siaga bencana. Rata-rata siswa ketika pre-test dan post test nilainya  tidak begitu besar, namun ketika praktek mereka dapat melaksanakannya dengan baik. Serta mereka mau membagi ilmunya kepada orang lain, khususnya orangtua mereka sendiri. Observasi juga dilakukan terhadap orangtua siswa. Dari hasil observasi tersebut, orangtua memiliki pengetahuan terhadap kegempaan dengan baik, tapi tidak untuk tindakan tanggap bencana.

Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.

No comments:

Post a Comment