by Rahmad Subekti
Indonesia
merupakan Negara dengan tingkat rawan bencana alam tinggi. Tercatat, dari 2.866
kejadian di benua Asia, 257 kejadian terjadi di Indonesia. Tingkat kegempaan di
Indonesia 10 kali lipat daripada di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan
Indonesia merupakan negara yang terdapat pada pertemuan lempeng-lempeng bumi
seperti lempeng Euro-Asia di utara, lempeng
Indo-Australia di selatan, serta lempeng Filipina dan Samudera Pasifik di
timur. Namun, tingginya tingkat kerawanan bencana alam tidak sebanding dengan
pengetahuan masyarakat tentang ilmu pengetahuan siaga bencana alam. Sehingga
jumlah korban yang diakibatkan oleh bencana alam sangat banyak, kebanyakan
korbannya adalah wanita dan anak-anak yang mana mereka belum mengerti tentang
pengetahuan dan sikap yang harus dilakukan ketika tengah terjadi bencana alam.
Oleh karena itu diperlukan kurikulum pendidikan guna memberikan pengetahuan
tanggap bencana.Hyogo Framework
kurikulum siaga bencana diprioritaskan, yaitu Priority for Action 3: Use
knowledge, innovation and education to build a cultureof safety and resilience
at all levels.
Penelitian
ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa
beserta orangtua sebelum dan sesudah menerima materi Siaga Bencana. Diharapkan
penelitian ini mampu memberikan kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang tanggap
bencana. Pelaksanaan program Siaga Bencana akan diberikan kepada Guru dan
siswa-siswa sekolah, karena gempa bisa saja terjadi ketika berada di lingkungan
sekolah, yaitu ketika siswa-siswa jauh dari pengawasan orangtua mereka.
Pendekatan
masalah yang digunakan berupa manajemen risiko bencana, bertujuan untuk
mengurangi dampak negatif akibat bencana alam, baik harta maupun nyawa.
Pendekatan yang selanjutnya adalah pendekatan melalui pendidikan pengurangan
risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi terjadinya bencana (seperti
perlindungan terhadap banjir melalui program pengerukan sungai) atau
meningkatkan kemampuan komunitas dalam merespon kedaruratan. Pendidikan tidak
hanya bisa diberikan secara formal, namun juga bisa secara informal. Melalui
komunitas-komunitas, berbagi pengalaman, serta menggunakan teknologi dapat
memberikan ilmu kepada masyarakat.
Penelitian
deskriptif dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang jenis jenis
variabel tanpa melakukan perbandingan atau menghubungkan antar variabel.
Sehingga, dibutuhkan penelitian lapangan yang menggunakan 2 metode servey,
yaitu descriptive survey dan explanatory survey. Penelitian dilakukan
di SDN Cirateun dan SDN 2 Padasuka Kab. Bandung.
Hasil
dari observasi yang dilakukan terhadap siswa-siswa kedua SD tersebut menerang
bahwa meskipun siswa SD kelas 3 mendapatkan materi SAINS tentang bencana alam,
namun mereka tidak mendapatkan materi siaga bencana. Rata-rata siswa ketika
pre-test dan post test nilainya tidak
begitu besar, namun ketika praktek mereka dapat melaksanakannya dengan baik.
Serta mereka mau membagi ilmunya kepada orang lain, khususnya orangtua mereka
sendiri. Observasi juga dilakukan terhadap orangtua siswa. Dari hasil observasi
tersebut, orangtua memiliki pengetahuan terhadap kegempaan dengan baik, tapi
tidak untuk tindakan tanggap bencana.
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.
No comments:
Post a Comment