Thursday, April 16, 2015

Review Paper SNIMed (2012 hal 18)

Kami akan mereview Paper yang dibuat oleh Peneliti yaitu Chanifah Indah Ratnasari :
  1. Domain Masalah
    Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam suatu sistem pembelajaran di tingkat Perguruan Tinggi. Dalam menjalankan perannya sebagai Mahasiswa, tentulah terdapat berbagai masalah yang dihadapi mengingat Mahasiswa berasalal dari berbagai latar belakang yang berbeda, suku, adat, budaya, serta lingkungan yang berbeda pula. Perbedaan tersebut menuntut Mahasiswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana Mahasiswa tersebut menuntut ilmu agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Pada umumnya setiap universitas mempunyai dosen pembimbing yang dikhususkan untuk membantu Mahasiswanya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi guna memperlancar kegiatan akademik. Di Universitas Islam Indonesia (UII), dosen pembimbing tersebut disebut dengan istilah Dosen Pembimbing Akademik (DPA). Sama halnya dengan dosen pembimbing pada umumnya, DPA berperan dalam membantu Mahasiswa yang mengkonsultasikan masalah yang dihadapinya.
  2. Masalah
    Akan tetapi, proses pembimbingan tersebut belum terdokumentasi dan terintegrasi dengan baik. Terlebih lagi permasalahan yang dihadapi oleh Mahasiswa beserta solusinya belum disimpan dalam suatu media yang sewaktu-waktu dapat diakses sehingga dapat mempermudah proses pembimbingan dengan kasus permasalahan yang sama atau sejenis. Selain itu orang tua atau wali dari Mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi anaknya. Pengetahuan yang berbeda dari setiap DPA juga berpengaruh pada solusi yang diberikan kepada mahasiswa. Sehingga diperlukan seorang ahli di bidang tersebut yang dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa, dalam hal ini yaitu seorang psikolog.
  3. Teknologi
    Pada penelitian ini telah dibangun sebuah sistem pendukung keputusan untuk mempermudah proses konsultasi/bimbingan mahasiswa dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) … Berdasarkan metode-metode yang dimiliki sistem pendukung keputusan, metode yang dirasa paling sesuai untuk mengatasi permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah metode penalaran berbasis kasus (Case-Based Reasoning / CBR).
  4. Solusi
    Dalam hal penentuan solusi dari permasalahan yang dihadapi mahasiswa (dengan bantuan seorang psikolog), menyimpan proses bimbingan yang dilakukan mahasiswa dengan DPA, menyimpan permasalahan-permasalahan yang dihadapi mahasiswa beserta solusinya, dan membantu orang tua / wali dalam memantau permasalahan yang dialami anaknya.

Dari Pendahuluan paper yang telah dibuat oleh peneliti berjudul “Sistem Berbasis Kasus untuk Penanganan Mahasiswa Bermasalah (Studi Kasus : Teknik Informatika UII)”, maka kami menyimpulkan bahwa bagian Pendahuluan tersebut termasuk ke dalam Pendahuluan jenis General, yaitu terdiri dari domain masalah, masalah, teknologi dan solusi. Namun tidak ditemukan bagian harapan dari paper ini.

Review Paper SNIMed (2012 halaman 62)

Domain Masalah: Dewasa ini penggunaan sistem berbasi jaringan semakin banyak dikembangkan untuk aplikasi telemedicine. terutama di Indonesia yang memiliki daerah yang sangat luas, perkembangan di bidang ini dituntut untuk terus dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan.
Salah satu pemanfaatan jaringan adalah, teknologi web services. Web services menggunakan standar yang tidak terikat pada platform (platform-neutral) dan tidak terikat pada bahasa pemrograman yang digunakan (language-neutral) [1] [2]. Dengan demikian, web services memudahkan beberapa aplikasi atau komponennya untuk saling berhubungan dengan aplikasi lain dalam sebuah organisasi maupun di luar organisasi.
Di lain pihak, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, perkembangan pengolahan citra medis juga semakin pesat. hal ini dapat dilihat dengan banyaknya aplikasi yang dikembangkan untuk pemrosesan hasil citra medis dari perlatan kesehatan seperti Computed Temography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Temography (PET) dan sistem x-ray [3]. Dengan aplikasi pengolahan citra medis, data citra medis dapat divisualisasikan dan dianalisis untuk keperluan diagnostik. 
Masalah : Namun untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan infrastuktur peralatan komputer standalone dengan kemampuan dan kualifikasi yang tinggi yang mampu melakukan pemrosesan citra dengan cepat.

Teknologi : Computed Temography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Temography (PET), sistem x-ray, web services.

Teknologi sebagai solusi : Topik yang diangkat pada penelitian ini adalah perancangan pengolahan citra medis berbasis web service.

Harapan :  Berbeda dengan aplikasi standalone, sistem yang dirancang dapat digunakan secara jarak jauh, dapat digunakan oleh banyak pengguna sehingga dapat mengurangi biaya dalam pengadaan infrastruktur hardware berkemampuan tinggi yang dibutuhkan dalam pengolahan citra medis.
Sistem yang dirancang dapat bekerja di berbagai macam platform dengan grafis antar muka berbasis web dan dibangun dengan menggunakan teknologi web services.

Review Paper SNIMed (2012 Hal 44)

Bismillahirrahmanirrahim..
Kami akan mereview paper yang berjudul " Business Intelegence Untuk Instansi Pelayanan Kesehatan: Manfaat dan Peluangnya di Indonesia " oleh Nurul Bahiyah, Rr. Hajar Puji Sejati

Analisis Pendahuluan

1. Domain Masalah : 
    ( Paragraf Pertama ) Pertumbuhan rumah sakit dan tenaga medis di Indonesia sangat tinggi. Namun sangat disayangkan, petumbuhan itu tidak diimbangi oleh kompetisi yang kuat dan kompetis kualitas (Thabrany, 2011).
    (Paragraf Kedua) Keinginan masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri masih sangat tinggi. Hal itu dikarenakan masyarakat ingin mendapatkan pelayanan terbaik. Masyarakat lebih memilih berobat ke Malaysia, Singapura, dan berbagai negara tetangga.

2. Masalah :
     (Paragraf Kedua) Hal ini disebabkan masih rendahnya pelayanan terhadap pasien di rumah sakit yang ada di Indonesia. Pelayanan di rumah sakit di luar negeri lebih profesional daripada rumah sakit- rumah sakit yang ada di Indonesia. Ditandai banyak keluhan-keluhan masyarakat tentang pelayanan kesehatan di Indonesia, walaupun ada beberapa rumah sakit yang sudah bagus dalam pelayanan pasien, mutu SDM dan peralatan medis namun pelayanan kesehatan di Indonesia belum merata, masih banyak daerah yang kondisi kualitas dan fasilitasnya belum memadai (Tanjung, 2010).
     (Paragraf Ketiga) Setiap instansi kesehatan tidak terkecuali rumah sakit, berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama pelayanan kesehatan pasien. Kualitas pelayanan kesehatan sendiri adalah yang menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula kualitas pelayanan kesehatan.

3. Teknologi :
       (Paragraf Keempat) Teknologi Informasi merupakan salah satu alat untuk dapat meningkatkan performa dan kinerja perusahaan dan merupakan salah satu keunggulan untuk memenangkan persaingan.

4. Teknologi menjadi solusi masalah :
      (Paragraf Keempat, Kalimat Kedua) Salah satu teknologi yang dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pasien dan dapat meningkatkan kinerja organisasi adalah Business Intellegence. Hasil survey Businessweek (Majalah bisnis mingguan terbitan Blommberg 1, New York) membuktikan bahwa Business Intelligence di industri kesehatan dapat mendukung keputusan di tingkat manajemen, menghemat biaya dan juga dapat meningkatkan pelayanan medis.
     (Paragraf Kelima, Kalimat Pertama) Selain pelayanan yang baik kepada pasien, kesejahteraan masyarakat untuk memperoleh kesehatan yang lebih baik juga dapat diupayakan dari pencegahan penyakit.

5. Harapan :
     (Paragraf Kelima, Kalimat Kedua) Jika pemerintah dan instansi kesehatan melakukan upaya ini, maka lambat laun akan menciptakan terwujudnya kehidupan yang lebih baik.

Review Paper SNIMed (2012 halaman 50)

by : Aprilia Ruh Sufiati & Dewi Sri M.

Penulis akan me-review Paper dengan judul Model Sistem Pendukung Keputusan Untuk Diagnosis Penyakit Anak Dengan Gejala Demam Menggunakan Naive Bayesian Classification.

Paper ini menggunakan pola pendahuluan "Low Level", dengan rincian sebagai berikut :


  1. Domain Masalah : Demam atau seringkali dikenal dengan istilah panas badan merupakan gejala yang umumnya muncul ketika seseorang merasa kurang enak badan. Bahkan hampir semua penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri umumnya ditandai dengan gejala demam. Hal ini juga didukung oleh kondisi tertentu seperti adanya musim pancaroba dan perubahan kualitas lingkungan pemukiman. Gejala demam yang timbul begitu mirip antara satu penyakit dengan penyakit yang lainnya sehingga diperlukan adanya diagnosa yang akurat serta dukungan pemeriksaan laboratorium untuk memutuskan jenis penyakit yang dialami oleh pasien (Sudayasa, 2010).
  2. Masalah : Miripnya gejala dan adanya suatu gejala yang menyertai beberapa penyakit yang berbeda menyebabkan sulitnya diagnosa awal penyakit.
  3. Teknologi : Metode Sistem Pendukung Keputusan dengan menggunakan Naive Bayesian Classification.
  4. Teknologi -> Masalah (Solusi) : Untuk mengakomodasi adanya gejala yang kurang lengkap, model keputusan juga disertai dengan penanganan ketidakpastian dengan metode Naive Bayesian Classification (NBC)
  5. Harapan : Kontribusi utama dari penelitian ini adalah membantu tugas dokter dalam melakukan diagnosis awalpenyakit yang disebabkan oleh demam terutama yang dialami oleh anak anak.

Tuesday, April 14, 2015

Sunday, April 5, 2015

Soal Pemrograman: PetiKemas


Prolog
Pak Uwi membuka bisnis pergudangan. Ia menyediakan sebuah gudang yang luas untuk pelanggannya bisa menyimpan peti kemas yang banyak, syaratnya luas peti kemas harus sama dan tinggi tidak lebih dari tinggi gudang. Dengan demikian, ia dapat menyusun peti kemas tersebut dengan rapi.  Ia juga dapat menumpuk peti kemas tersebut agar mengurangi luas gudang yang digunakan. Peti kemas ditumpuk di atas peti kemas yang lain selama jumlah tingginya tidak melebih tinggi gudang sehingga jumlah luas yang digunakan seminimal mungkin. Bantulah Pak Uwi untuk menghitung luas gudang minimal yang diperlukan untuk menyimpan sejumlah peti kemas yang ada.

Input
Baris pertama menunjukkan jumlah peti kemas yang datang (n).
Baris kedua hingga n+1 menjukkan tinggi masing-masing peti kemas sesuai kedatangan.
Baris terakhir menujukkan tinggi gudang.
Constraint: peti kemas dipastikan tidak akan ada yang lebih tinggi dari gudang dan semua nilai masukan adalah bilangan integer positif.

Output
Terdiri dari sebuah bilangan yang menunjukkan jumlah tumpukkan yang diperlukan agar semua peti kemas dapat masuk ke dalam gudang dengan luas minimum yang digunakan. Peti kemas harus dimasukkan secara terurut sesuai kedatangan (tidak boleh diacak).

Contoh Input
7
3
3
3
6
4
9
3
10
Contoh Output
4

Keterangan
Input terdiri dari 7 peti kemas dengan tinggi gudang 10.
Maka tumpukan minimum yang bisa dilakukan adalah 4, yaitu:
  • Tumpukan pertama: Peti kemas 1, 2 dan 3; dengan tinggi 3 + 3 + 3
  • Tumpukan kedua: Peti kemas 4 dan 5; dengan tinggi 6 + 4
  • Tumpukan ketiga: Peti kemas 6 saja; dengan tinggi 9
  • Tumpukan keempat: Peti kemas 7 saja; dengan tinggi 3

Resume tentang Siaga Bencana (3)


by Rahmad Subekti


Indonesia merupakan Negara dengan tingkat rawan bencana alam tinggi. Tercatat, dari 2.866 kejadian di benua Asia, 257 kejadian terjadi di Indonesia. Tingkat kegempaan di Indonesia 10 kali lipat daripada di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan Indonesia merupakan negara yang terdapat pada pertemuan lempeng-lempeng bumi seperti  lempeng Euro-Asia di utara, lempeng Indo-Australia di selatan, serta lempeng Filipina dan Samudera Pasifik di timur. Namun, tingginya tingkat kerawanan bencana alam tidak sebanding dengan pengetahuan masyarakat tentang ilmu pengetahuan siaga bencana alam. Sehingga jumlah korban yang diakibatkan oleh bencana alam sangat banyak, kebanyakan korbannya adalah wanita dan anak-anak yang mana mereka belum mengerti tentang pengetahuan dan sikap yang harus dilakukan ketika tengah terjadi bencana alam. Oleh karena itu diperlukan kurikulum pendidikan guna memberikan pengetahuan tanggap bencana.Hyogo Framework kurikulum siaga bencana diprioritaskan, yaitu Priority for Action 3: Use knowledge, innovation and education to build a cultureof safety and resilience at all levels.

Penelitian ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa beserta orangtua sebelum dan sesudah menerima materi Siaga Bencana. Diharapkan penelitian ini mampu memberikan kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang tanggap bencana. Pelaksanaan program Siaga Bencana akan diberikan kepada Guru dan siswa-siswa sekolah, karena gempa bisa saja terjadi ketika berada di lingkungan sekolah, yaitu ketika siswa-siswa jauh dari pengawasan orangtua mereka.

Pendekatan masalah yang digunakan berupa manajemen risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi dampak negatif akibat bencana alam, baik harta maupun nyawa. Pendekatan yang selanjutnya adalah pendekatan melalui pendidikan pengurangan risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi terjadinya bencana (seperti perlindungan terhadap banjir melalui program pengerukan sungai) atau meningkatkan kemampuan komunitas dalam merespon kedaruratan. Pendidikan tidak hanya bisa diberikan secara formal, namun juga bisa secara informal. Melalui komunitas-komunitas, berbagi pengalaman, serta menggunakan teknologi dapat memberikan ilmu kepada masyarakat.

Penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang jenis jenis variabel tanpa melakukan perbandingan atau menghubungkan antar variabel. Sehingga, dibutuhkan penelitian lapangan yang menggunakan 2 metode servey, yaitu descriptive survey dan explanatory survey. Penelitian dilakukan di SDN Cirateun dan SDN 2 Padasuka Kab. Bandung.

Hasil dari observasi yang dilakukan terhadap siswa-siswa kedua SD tersebut menerang bahwa meskipun siswa SD kelas 3 mendapatkan materi SAINS tentang bencana alam, namun mereka tidak mendapatkan materi siaga bencana. Rata-rata siswa ketika pre-test dan post test nilainya  tidak begitu besar, namun ketika praktek mereka dapat melaksanakannya dengan baik. Serta mereka mau membagi ilmunya kepada orang lain, khususnya orangtua mereka sendiri. Observasi juga dilakukan terhadap orangtua siswa. Dari hasil observasi tersebut, orangtua memiliki pengetahuan terhadap kegempaan dengan baik, tapi tidak untuk tindakan tanggap bencana.

Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.

Resume tentang Siaga Bencana (2)

by Amanda Lailatul Fadhilah
 
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia. Lokasi Indonesia yang demikian menjadikan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam tinggi, seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi masalah bagi masyarakat, utamanya masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana alam. Ketidaktahuan masyarakat akan cara penyelamatan diri dari bencana alam yang datang secara tiba-tiba, khususnya gempa bumi menjadi salah satu faktor banyaknya korban jiwa dan mendapat kerugian materi.

Bencana tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat dikurangi dampak negatif atau risiko bencananya. Oleh karena itu, perlunya manajemen risiko bencana guna mengelola bencana, mulai dari tindakan persiapan sebelum bencana terjadi, dukungan, dan membangun kembali masyarakat saat bencana terjadi. Konsep pengelolaan bencana telah mengalami pergeseran paradigma, dari pandangan konvensional kemudian berkembang menjadi paradigma mitigasi, paradigma pembangunan dan paradigma pengurangan risiko. Kemudian pentingnya untuk diselenggarakannya pendidikan pengurangan resiko bencana guna menanamkan pengetahuan dan kearifan lokal untuk melindungi dari bahaya.alam. Terdapat perbedaan yang mendasar bagi anak-anak yang mengikuti dan tidak mengikuti pendidikan tanggap bencana. Anak-anak yang tidak mengikuti cenderung lebih merasa takut untuk memikirkan atau berbicara seputar bencana. Pendidikan ini tidak terbatas hanya pada pendidikan formal di sekolah tetapi dapat disampaikan melalui banyak cara.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Krishna S. Pribadi dan Ayu Krishna Yuliawati dilakukan dengan metode survey. Implementasinya dengan memberikan materi gempa bumi untuk siswa kelas 2 dan kelas 3 pada dua sekolah dasar yang berbeda selama kurang dari 6 bulan. Untuk pengujian pemahaman terhadap siswa dilakukan pretest dan post test serta test performance yaitu tes tindakan darurat ketika bencana terjadi. Hasil dari penelitian pendidikan bencana yang dilakukan, terlihat adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi bencana dan tindak-tanggap darurat bencana gempa bumi. Namun masih ada beberapa anak yang masih merasa kesulitan untuk memahami tentang materi gempa bumi. Walaupun ada beberapa siswa kelas 3 SD yang hasil tesnya masih belum mencukupi, namun ketika diminta test performance mereka sudah bisa menyelamatkan diri dengan benar. Peneliti juga melakukan survey terhadap orangtua, agar siswa dapat memahami pendidikan siaga bencana dengan baik tentunya tidak lepas dari dukungan orang tua. Oleh karena itu, Orangtua siswa juga memiliki peran aktif dalam mendorong siswa untuk mempelajari materi pendidikan siaga bencana.
 
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.

Resume tentang Siaga Bencana (1)


by Fadila Aulia Pritami


Indonesia merupakam negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia, yaitu Euro-Asia di bagian Utara, lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Filipina dan Samudera Hindia di bagian Timur sehingga menjadi negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam tinggi seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan sebagainya.

Beberapa faktor penyebab utama timbulnya banyak korban akibat bencana gempa adalah karena kurangnyapengetahuan dan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana tersebut.Pengetahuan mengenai penguranganrisiko bencana belum masuk ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Padahal 113 negara lain yang sudahmemasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah diantaranya adalah Bangladesh, Iran, India, Mongolia, Filipina, Turki, dan Tonga. Berdasarkan Hyogo Framework yang disusun oleh PBB maka pendidikan siaga bencana merupakan prioritas, yakni Priority for Action 3: Use knowledge, innovation and education to build a cultureof safety and resilience at all levels.

Siaga Bencana Gempa Bumi perlu diajarkan kepada anak-anak sekolahyang didalamnya mencakup bagaimana menyelamatkan diri mereka saat bencana mengancam dan menghindarikecelakaan. Masyarakat Indonesia kurang mengerti apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana gempa untuk mengurangi kerugian jiwa dan benda. Berdasarkan hasil studi, bangunan sekolah dasar umumnya dibuat dengan kurang memperhatikan kaidah dasarketahanan bangunan terhadap gempa bumi, sehingga apabila terjadi gempa bumi maka bangunan sekolah dapatroboh dan menimpa siswa. Korban meninggal dan luka-luka lebih sering disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan dan karena situasi panik. Maka, perlu diadakan penelitian untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kewaspadaan (awareness) komunitas sekolah dasar terhadap bahaya gempa bumi melalui Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumiuntuk sekolah dasar.Pelaksanaan program akan bermanfaat bagi komunitas sekolahdalammengantisipasi bahaya bencana gempa bumi.

Pada kegiatan penelitian ini SDN Cirateun dan SDN Padasuka 2 Kab Bandung telah diberikan materi Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi dalam bentuk modul untuk Guru, selain itu diberikan materi-materi Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi kepada siswa-siswa kelas 2 dan3 SD juga terhadap orang tua siswa.Siswa sangat antusias untuk belajar mengenai siaga gempa bumi karena kegiatan pembelajarannya menarik terdiri dari serangkaian kegiatan yang memerlukan partisipasi aktif siswa, seperti kegiatan identifikasidaerah yaitu mengelilingi sekolah dan kelas sambil membuatdenah. Dalam memahami fenomena gempa bumi, siswa dan guru melakukan percobaan dengan menggunakanroti ibarat lapisan bumi dan saat latihan siaga gempa (earthquake drill) siswa bersama guruberlatih masuk ke dalam kolong meja, berbaris dan keluar ke tempat evakuasi.Kemudian, peneliti mengkonfirmasikan kepadaorang tua mereka, bahwa setelah memperoleh pendidikan siaga bencana, siswa menceritakanpengetahuan dan kegiatan mereka dengan keluarga di rumah.

Hasil penelitian mengenai pendidikan risiko bencanagempa bumi yaitu bahwa siswa yang memperoleh pendidikan siaga bencana gempa bumi memiliki peningkatanpengetahuan mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi dan tanggap darurat. Mereka memilikipersepsi realistik terhadap kemungkinan terjadinya bahaya. Selain itu, siswa juga mampu berperan aktif dalam untuk memberikan informasi terhadap keluarganya masing-masing. 

Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.

Resume tentang HTML5 (3)

by Wahyu Firmansyah
 
Web adalah kumpulan dari halaman-halaman situs yang biasa terangkum dari sebuah domain/subdomain yang berada di internet. Media Pembelajaran secara umum adalah alat bantu dalam proses belajar, ada 3 macam media pembelajaran yaitu:
• Media Visual : media yang biasanya menggunakan gambar dalam metode pembelajarannya.
• Media Audio: media yang biasanya menggunakan suara dalam metode pembelajarannya.
• Media Audio-Visual: media baru yang menggabungkan Video dan suara dalam metode Pembelajarannya.

Pembelajaran berbasis web ialah kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan media situs web yang bisa di akses melalui jaringan internet. Media ini mempunyai fungsi dan manfaat yaitu:
a. dengan adanya internet sebagai sarana komunikasi 2 arah pada laptop, komputer.handphone siswa dapat melakukan pembelajaran dimana saja.
b. Biaya operasional dari setiap siswa yang mengikuti pembelajaran jadi lebih terjangkau
c. Hak akses terhadap informasi akademik bisa diatur sesuai kebutuhan
d. Siswa dapat mengakses materi apa saja yang harus dipelajari tanpa harus menunggu guru menjelaskan diruang kelas.
e. Materi mudah di update, jadi siswa tidak harus menunggu proses revisi dan cetak yang lama jika ada materi baru.

HTML 5 dibuat untuk mengatasi masalah yang dialami oleh HTML versi sebelumnya seperti masalah ketergantungan plug-in yang membuat kinerja CPU menjadi lambat. HTML 5 memiliki banyak fitur baru yang dapat membuat HTML 5 lebih unggul dan cocok untuk membentuk aplikasi yang berbasis web ini, adapun fitur yang dimiliki HTML 5 adalah sebagai berikut:
• Native video dan audio : digunakan untuk menyisipkan file audio dan video tertentu.
• Canvas drawing API : fitur yang digunakan untuk menggambar menggunakan java script tanpa membutuhkan plug-in seperti flash.
• Local Storage : memungkinkan web untuk menyimpan data cache lebih besar di tempat penyimpanan lokal daripada cache pada browser biasa.
• Web worker : ketika java script melakukan banyak aktifitas sekaligus, kinerja tidak akan terhambat dan lambat.
• Semantic : fitur yang membuat web lebih dinamis dan menarik

Metode Penelitian yang di gunakan ialah metode waterfall dimana setiap proses menunggu proses sebelumnya selesai dilakukan barulah bisa di proses, metode-metodenya ialah:
1. Requirements
2. System and Software design
3. Implementation and unit testing
4. Integration and system testing
5. Operation and Maintenance

Perancangan basisdata dari aplikasi pembelajaran ini memiliki 2 tabel. Tabel member memiliki atribut: ID, Nama, Umur, Alamat, Sekolah, Username, Password, sedangkan tabel test memiliki atribut: ID, ID_member, Quiz, Tanggal, Jumlah, Berhasil, Nilai, dengan ID merupakan primary key dengan relasi antara tebel member dan test ini adalah one to many.

Kesimpulan: Perkembangan HTML yaitu HTML 5 memberikan perubahan sangat besar dalam membangun dan menjalankan sebuah website, fitur yang ada pada HTML 5 membantu dalam membuat animasi tanpa menggunakan plug-in untuk pengoperasiannya.untuk anak usia pre-school mereka dapat mengakses aplikasi ini dimana saja dengan tablet, laptop, komputer dan smartphonenya untuk melakukan pembelajaran bahasa inggris dasar, tanpa harus belajar di ruang kelas yang menyita waktu dan biaya.

Raymond Abraham Lengkong. (2012). Rancang Bangun Media Pembelajaran Bahasa Inggris Dasar Berbasis Web Menggunakan HTML5. Skripsi S1 Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Resume tentang HTML5 (2)



by Resqa Dahmurah
Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang sudah sepatutnya kita kuasai, terlebih lagi dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu perlu ada persiapan yang baik, dan efisien. Pembelajaran bahasa Inggris Dasar bagi anak-anak usia dini adalah salah satu persiapan yang bagus dan akan memberikan dampak yang signifikan dimasa depan. Pembelajaran berbasis web (internet) merupakan solusi yang sedang dikembang pada saat sekarang ini. Dengan menggunakan teknologi bahasa pemrograman web (HTML5) akan lebih mudah dan efektif.

HTML5 merupakan pengganti standarisasi dari bahasa HTML, XHTML, dan HTML DOM. Selain itu HTML5 juga memiliki banyak kelebihan, seperti fitur canvas yang digunakan untuk menggambar menggunakan javascript, tanpa menggunakan plug-in, fitur untuk melakukan drag and drop serta memainkan music dan video. Dengan adanya pembelajaran bersifat online dan berbasis web seperti ini, anak tidak lagi diharuskan hadir dikelas pada waktu-waktu tertentu, namun akan lebih fleksibel dan menyesuaikan waktu dan keinginan anak. 

Faktanya anak usia pre-school saat ini sudah menggunakan tablet Pc seperti ipad yang memudahkan mereka untuk melakukan proses pembelajaran bahasa inggris dasar tanpa dibatasi ruang dan waktu. Masalah lain yang ada yaitu banyak website yang tidak interaktif dan kurang menarik, yang biasanya hanya berupa tulisan-tulisan yang dapat membuat siswa jenuh. Sebuah website sebagai media pembelajaran membutuhkan tampilan yang lebih animatif, menarik dan dapat membantu siswa memahami materi khususnya Bahasa Inggris dasar dengan benar dan cepat. Pengoprasian pembelajaran bahasa inggris dasar berbasis web juga harus mudah karena penggunanya adalah anak pre-school. Untuk itu penulis menggunakan HTML5 dalam membangun sebuah media pembelajaran bahasa inggris dasar berbasis web, karena keunggulan HTML5 dengan fitur canvas-nya dalam pembuatan animasi, tidak tergantung pada plug-ins dalam pengoprasiannya, serta dapat di jalankan di berbagai tablet Pc dan smartphone dan diberbagai browser.

Pembelajaran berbasis web merupakan pembelajaran dengan memanfaatkan situs web dan menggunakan jaringan internet, dan juga ini sudah menerap proses e-learning. Fungsi dari proses pembelajaran seperti ini di ataranya:
  1. Access is available anytime, anywhere, around the globe. Artinya adalah dengan adanya internet sebagai sarana komunikasi 2 arah yang sangat banyak digunakan, saat ini seorang peserta didik memiliki akses yang besar terhadapt informasi apapun, termasuk informasi pembelajaran. Dengan adanya koneksi internet pada laptop, komputer, telepon genggam, atau koneksi internet di sarana umum, siswa dapat melakukan pembelajaran dimana saja.
  2. Pre-student equipment cost are affordable. Artinya dari segi biaya, biaya oprasional dari setiap siswa untuk mengikut kegiatan pembelajaran menjadi lebih terjangkau.
  3. Student tracking is made easy. Melalui pembelajaran berbasis web, segala aktifitas pembelajaran siswa akan dicatat dalam sebuah database yang tersimpan di server. Administrator, guru, orang tua dan siswa sendiri dapat melihat data-data akademik dari siswa. Hak akses terhadap informasi akademik bisa diatur seusai kebutuhan.
  4. Possible “Learning Object” architecture support on demand, personalized learning. Ini berarti bahwa siswa dapat melakukan pembelajaran yang lebih terporsonalisasi. Siswa dapat mengakses meteri apa saja yang harus dipelajari tanpa harus menunggu guru menjelaskan di ruang kelas.
  5. Content is easily updated. Poin terakhir ini merupakan keunggulan terbesar dari pembelajaran berbasis web. Dengan materi yang sangat cepat berubah-rubah, pembelajaran yang bersifat konvensional yang menggunakan buku, CD-ROM, tidak bisa di peraharui dengan mudah, melainkan harus melalui proses revisi cetak ulang atau mebuatan ulang.
Alasan mengapa menggunakan HTML5 adalah kerena teknologinya yang sudah lebih sempurna dari bahasa-bahasa yang sebelumnya dan cocok untuk aplikasi yang berbasis web. Beberapa fitur baru di HTML5 adalah:
  1. Native Video and Audio adalah tag yang berfungsi untuk menyisipkan file audio dan video tertentu. Berbeda dengan versi HTML sebelumnya yang harus menyisipkan flash untuk memutar audio dan video. HTML5 akan mudah menyisipkan file multimedia kedalam web.
  2. Canvas Drawing API adalah fitur baru yang berfungsi untuk menggambar menggunakan JavaScript. Canvas berfungsi untuk membuat web yang interaktif tanpa membutuhkan plug-in seperti flash.
  3. Local Storage berfungsi untuk menggantikan cache sebagai penyimpanan history halaman web. Memungkinkan web untuk menyimpan data cache lebih besar di tempat pemyimpanan lokal daripada cache pada browser biasa.
  4. Web Worker adalah threading pada saat komputer melambat yang disebabkan javascript. Sehingga ketika JavaScript melakukan banyak aktifitas sekaligus, kinerjanya tidak akan terhambat dan lambat.
  5. Semantics adalah fitur yang sering digunakan untuk web developers untuk membuat web lebih dinamis dan menarik.
Dengan adanya perkembangan teknologi HTML5 ini akan dapat memudahkaan dalam proses pembelajar bagi anak-anak. Kerena dengan fitur yang semakin bagus dan tidak harus menghadirkan anak dalam kelas pada jam-jam tertentu dan pastinya lebih murah.

Raymond Abraham Lengkong. (2012). Rancang Bangun Media Pembelajaran Bahasa Inggris Dasar Berbasis Web Menggunakan HTML5. Skripsi S1 Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.