BestAppsID merupakan kompetisi coding selama 24 jam tanpa henti untuk mencari aplikasi terbaik yang memanfaatkan API (Application Programming Interface) dari Telkom Group. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Telkom dan Telkomsel bekerjasama dengan Bandung Digital Valley.
Sasbuzz merupakan startup yang menyediakan platform berupa solusi layanan marketing bisnis berbasis teknologi IT yang memungkinkan pengguna melakukan proses marketing secara otomatis dan tertarget berdasarkan keyword dan zona wilayah tertentu pada media sosial Twitter.
Sasbuzz memiliki empat fitur utama yang dapat berjalan secara otomatis dalam satu pengaturan, yaitu :
Buzzy: mengatur akun Twitter untuk membuat tweet secara terjadwal.
Buzzet: mencari konsumen potensial dengan keyword tertentu.
Buzz Location: mencari konsumen potensial di wilayah tertentu.
Buzz Talk: menjawab setiap tweet dari konsumen.
Dengan fitur-fitur tersebut, pengguna dapat memiliki keuntungan seperti menganalisis brand image, efektivitas dan efesiensi marketing, analisis respon konsumen, mendeteksi negative sentiment terhadap produk sehingga dapat membentuk positive sentiment.
Keunikan yang dimiliki Sasbuzz adalah memudahkan proses bisnis menggunakan media Twitter
dan memungkinkan pengguna untuk melakukan analisa marketing di Twitter.
Sumber : https://id.techinasia.com/sasbuzz-marketing-twitter-otomatis-tertarget/
Monday, September 7, 2015
Review Darurat App
A. Deskripsi Singkat
Darurat App adalah sebuah aplikasi yang dibuat untuk membantu seseorang ketika berada dalam keadaan darurat. Misalnya saja ketika tiba-tiba terjadi kecelakaan, orang yang berada di sekitar area kecelakaan pasti akan merasa panik dan bingung. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain itu terkadang dalam situasi panik orang cenderung lupa nomor-nomor penting yang harus dihubungi. Oleh karena itu, tim Meridian menciptakan sebuah aplikasi bernama Darurat App yang digunakan sebagai solusi untuk menjawab permasalahan yang sudah dijelaskan sebelumnya.
B. Fitur
Aplikasi ini merupakan direktori yang mampu menghubungkan pengguna dengan instansi-instansi darurat seperti BPOM, SAR, BPBD, rumah sakit, polisi, PMI, pemadam kebakaran, SPBU, dan keluarga terdekat secara langsung dari genggaman mereka.
Selain navigasi di halaman yang juga berfungsi sebagai fitur utama, pengguna dapat mengakses fitur lain melalui slide di sebelah kiri aplikasi. Pengguna dapat melihat halaman Beranda, Profil, Bantuan, Info Aplikasi, dan Sebarkan. Halaman Profil bisa diasumsikan dapat mengatur data dari informasi pengguna, namun saat ini fitur belum dapat dimanfaatkan. Sementara halaman Bantuan, berisi persis dengan halaman utama yang terdiri dari sembilan navigasi di fitur utama, hanya saja tidak dapat diakses.
Dua halaman lainnya yaitu Info dan Sebarkan memaparkan deskripsi singkat tentang aplikasi DARURAT dan kontak yang mungkin diperlukan untuk disebarkan.
C. Keunikan
Aplikasi DARURAT memiliki sembilan navigasi utama yang berfungsi sebagai akses cepat untuk menghubungi pihak terkait di halaman utama aplikasi. Di tiap navigasi tersebut, pengguna dapat langsung melakukan panggilan suara berdasarkan posisi terdekat yang tersedia. Sehingga bisa dikatakan bahwa aplikasi darurat tersebut memiliki semua fitur dalam satu aplikasi atau all in one.
D. Kenapa Menang
Aplikasi darurat ini memberikan manfaat bagi masyarakat umum seperti mengatasi kepanikan ketika keadaan darurat datang. Selain itu, aplikasi dirancang user friendly dan memiliki tampilan menarik
JakCare, Pemenang #HACKJAK 2015
#HACKJAK 2015 atau Hackathon Jakarta merupakan kompetisi mengenai anggaran dan transportasi DKI Jakarta. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah DKI Jakarta yang didukung oleh SEATTI (South East Asia Technology and Transparency Initiative) dan MAVC (Making All Your Voices Count) pada tanggal 20 Agustus 2015. Kompetisi ini memiliki 3 kategori, yaitu Scrapathon, Visualthon dan Hackathon.
Pada kategori Hackathon, aplikasi JakCare menjadi pemenang pertama. Aplikasi ini memudahkan seseorang untuk mencari, membantu, dan melaporkan keberadaan fakir miskin atau orang yang membutuhkan bantuan uluran tangan di sekitar kita.
Sumber: https://id.techinasia.com/pemenang-hackjak-2015-dan-rencana-ahok-untuk-dki-jakarta/
Pada kategori Hackathon, aplikasi JakCare menjadi pemenang pertama. Aplikasi ini memudahkan seseorang untuk mencari, membantu, dan melaporkan keberadaan fakir miskin atau orang yang membutuhkan bantuan uluran tangan di sekitar kita.
Sumber: https://id.techinasia.com/pemenang-hackjak-2015-dan-rencana-ahok-untuk-dki-jakarta/
Review Aplikasi Android "Celengan Limbah", Pemenang OSN Pertamina 2014
Apa itu CeLi?
Celengan Limbah merupakan aplikasi yg bertujuan untuk memudahkan pendistribusian limbah sampah dari pemilik sampah kepada bank sampah, yang tujuan akhirnya agar memiliki nilai jual.Mekanisme penggunaan CeLi?
Masyarakat pada dasarnya akan mengumpulkan sampah yang nantinya sampah tesebut akan di kirimkan ke bank sampah sebagai host yang kemudian akan memberikan point terhadap masyarak atas partisipasinya dalam mengumpulkan sampah. Dari point yang didapat, masyarakat bisa menukarkannya menjadi hadiah.Keunikan Aplikasi
Aplikasi Celengan Limbah dapat membantu masyarakat untuk langsung mendistribusikan kepada pihak yang berwenang yaitu dalam hal ini bank sampah, sehingga sampah dapat langsung diolah dan tidak menimbun di tempat lain. Selain itu, aplikasi ini menawarkan hadiah yang menarik dari pengumpulan point yang didapat oleh masyarakat, sehingga masyarakat menjadi semangat dalam mengumpulkan sampah.Kekurangan / kelemahan?
Karena bank sampah hanya terdapat di beberapa daerah, belum di semua daerah, tentunya aplikasi ini hanya dapat digunakan oleh masyarakat yg dekat dengan bank sampah saja.Wednesday, May 27, 2015
Review UTS Informatika UII - Vicky
Assalamualaikum wr wb.
Selamat Pagi semua, disini saya akan mereview kejadian-kejadian cukup unik yang terjadi selama berlangsungnya kegiatan Ujian Tengah Semester atau biasa disebut UTS. Seperti kita ketahui bahwa pada tanggal 4-16 Mei 2015 kemarin, para mahasiswa Universitas Islam Indonesia menjalani masa UTS termasuk juga saya.
Yang namanya ujian pasti memiliki suatu peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh para peserta. Untuk peraturan UTS kali ini cukup unik dan berbeda dibanding UTS sebelumnya. Satu yang paling saya rasakan adalah tidak adanya penggunaan kartu ujian sebagai tanda sah-nya peserta ujian mengikuti UTS. Sebagai gantinya, panitia memperbolehkan peserta menggunakan kartu identitas pribadi yang lain seperti KTP, SIM, ataupun kartu yang memuat data diri beserta foto seperti KTM. Salah satu fenomena unik adalah ketika beberapa orang memilih untuk menggunakan kartu identitas KTP atau SIM sebagai ganti dari KTM. Pengawas terlihat sangat hati-hati dalam melihat data diri para peserta karena mereka menerapkan aturan ini supaya praktek tentang joki dalam ujian tidak ada lagi. Selain dari itu, foto peserta di dalam kartu identitas dan wajah asli terlihat berbeda karena mungkin faktor pertumbuhan usia, sehingga ada pengawas yang sempat iseng bertanya kepada salah satu peserta "Ini bener foto kamu? Kok wajahnya agak beda ya?" diikuti dengan tawa ringan para peserta lainnya. Peraturan baru itu pun tidak terlalu membuat permasalahan karena memang sebelumnya sudah diiinfokan oleh jurusan masing-masing mengenai peraturan UTS yang baru ini.
Kejadian kedua yang saya alami adalah pada saat mengikuti UTS Statistika Probabilitas atau Statpro. Pada ujian kali ini, saya dan para peserta lain dibuat heran dengan berubahnya aturan pengerjaan soal, yang awalnya open paper dan kalkulator menjadi hanya open kalkulator. Padahal sebelumnya sudah dikonfirmasi oleh dosen bahwa ujian berlangsung open book, dan pada pengerjaannya di kelas menjadi close book. Ini terjadi karena soal UTS Statpro tersebut adalah gabungan dari tiga dosen pengampu sekaligus, sehingga mungkin ada aturan yang berbeda dari setiap dosen dalam pengerjaan soal ujian tersebut. Pada akhirnya kelas saya yang menjadi korban dari perbedaan aturan tersebut dan ya, beberapa peserta ujian melakukan protes terhadap pengawas meskipun tidak digubris.
Itulah kejadian-kejadin unik yang saya alami selama menjalani masa UTS Semester 4 ini. Saya yakin dengan semakin ketatnya aturan-aturan yang berlaku, maka semakin siap untuk mahasiswa dalam menghadapi suatu tes lagi kedepannya. Amiiiin~
Sekian review dari saya, Wassalamualaikum wr wb.
Saturday, May 23, 2015
Review UTS Informatika UII - Kartika
Assalamu'alaikum pembaca setia informatika pintar,, ;D
Masih dengan topik yang sama seperti yang disampaikan saudara Nabil Firdaus sebelumnya, disini saya juga akan berbagi sedikit cerita tentang fenomena yang terjadi ketika UTS kali ini.
Jadi fenomena yang saya temui saat UTS kali ini adalah penggunaan kalkulator pada saat ujian mata kuliah Data Mining yang diampu oleh Pak Ahmad Fathan. Ada beberapa mahasiswa yang menggunakan kalkulator saat ujian berlangsung sedangkan sifat ujian adalah kalkulator tertutup. Nah loooo,,, gimana tuh?? kok bisa??
Namun ketika diklarifikasi mereka mengaku bahwa mereka tidak tahu tentang sifat ujian tersebut karna memang tidak tertulis dalam lembar soal ujian dan hanya sebatas pemberitahuan secara lisan oleh dosen bersangkutan saat ada salah seorang mahasiswa menanyakan perihal penggunaan alat bantu hitung tersebut saat kuliah terakhir sebelum UTS. Akibatnya, sebagian mahasiswa merasa dirugikan, termasuk saya sendiri. Terlebih lagi, pengawas ujian juga tidak melakukan tindakan apapun terhadap penggunaan kalkulator oleh sebagian mahasiswa tersebut.
Kejadian diatas merupakan salah satu contoh kurangnya komunikasi dan informasi terhadap dosen, mahasiswa, dan pengawas ujian. Untuk menghindari masalah serupa untuk terjadi seharusnya dosen memberikan pengumuman dengan jelas terhadap mahasiswanya tentang sifat-sifat ujian serta menyantumkannya dalam lembar soal agar dapat ditangkap dengan jelas oleh mahasiswa sekaligus dapat membantu petugas untuk dapat melakukan tindakan disiplin ujian.
Tetep semangat!! Informatika! Satu untuk semua, semua untuk satu!! :)))
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tuesday, May 19, 2015
Review UTS Informatika UII - Nabil
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat siang,
Sebelum menyampaikan review saya mengenai hal menarik yang ditemukan selama UTS di jurusan Informatika Universitas Islam Indonesia, saya akan menjelaskan sedikit apa itu UTS. Apa sih UTS?
Menurut teman saya, namanya Choirul Anas Hadi Putra, dia kuliah di jurusan Hukum di universitas yang sama, dia di dalam blognya menyampaikan jika UTS itu yaa Ujian Tengah Semester dengan slogan Ujian Tetap Serius, bukan seperti yang sering disampaikan tidak sedikit orang, yaitu dengan slogan Ujian Tidak Serius (mungkin). Yang menarik adalah, hal semacam ini memang sejatinya penting, karena yang namanya sebuah perspektif yang buruk tentu akan menimbulkan mindset menjadi buruk pula, begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, pemaknaan seperti ini walaupun mungkin hanya sepele sepertinya, namun siapa sangka dapat berdampak besar jika tidak diperhatikan secara serius.
Oke, selanjutnya kembali ke topik, yaitu mengenai review hal menarik yang ditemukan selama UTS. Hal yang saya ingin ceritakan yaitu sebenarnya ini menyangkut diri saya pribadi. Jadi, pada hari itu, Kamis 7 Mei 2015 pukul 10.25, saya mengalami hal yang bagi saya itu unik. Jadi, kronologinya yaitu pada hari itu pukul 10.15, seharusnya saya sudah harus sampai di kelas untuk mengikuti UTS Rancangan Perangkat Lunak yang diampu oleh Bapak Beni Suranto S.T., M.Eng, tetapi saya baru tidak di kelas pukul 10.25. Sehingga dalam artian saya terlambat 10 menit.
Sebelum itu, saya bertemu teman saya yang satu kelas RPL dengan saya di parkiran. Saya waktu itu masih biasa saja, sebelum dia bilang jika dia sudah keluar dari kelas (dalam hal ini sudah selesai mengerjakan UTS RPL). Konyolnya, saya pun masih sedikit bingung, karena mana mungkin secepat itu, jadi saya masih tetap santai menuju ke kelas. Namun, setibanya di tangga, sayapun menjumpa teman-teman saya yang lain yang satu kelas RPL dengan saya, dan mengejutkannya mereka bilang hal yang sama seperti yangdibilang teman saya sebelumnya tadi. Barulah saya percaya, ternyata mereka semua memang benar-benar sudah menyelesaikan UTS mereka.
Sontak saat itu detak jantung mulai berdetak kencang seperti genderang mau perang (seperti lagu, hehe), dan pikiranpun sudah kemana-mana. Setelah sampai di kelas, saya masuk seperti biasa, karena saya pikir baru terlambat 10 menit. Tapi tiba-tiba teman saya yang lain bilang kalau sudah tidak boleh masuk. Sontak pula saya terkejut, dan mereka bilang ada teman sebelumnya juga yang sudah bernegosiasi dengan pengawas, tetapi tetap tidak diperbolehkan. Saya pun langsung ke depan dan bertanya dengan pengawas. Yaa kira-kira seperti ini
Saya : "Mau tanya Bu, ini masih boleh masuk kan?"
Pengawas : "Masuk? Masnya baru saja datang?"
Saya : "Wah iya bu, memang kenapa ya?"
Pengawas : "Loh, coba dilihat jamnya. Sudah tidak boleh masuk karena sudah banyak yang keluar", katanya. Sotak saya pun terkejut kembali.
Saya : "Loh, memang kenapa bu? Bukannya ....(bla bla bla)". Belum selesai bicara, sudah dipotong pembicaraan saya.
Pengawas : "Sudah tidak usah banyak tanya! Langsung saja ke bawah menemui pengurus ujian, tanya apakah masih boleh masuk apa tidak".
Setelah itu, saya pun langsung bergegas ke bawah.
Lanjut nanti lagi, hehe. Kuliah dulu :DD
Referensi :
Selamat siang,
Sebelum menyampaikan review saya mengenai hal menarik yang ditemukan selama UTS di jurusan Informatika Universitas Islam Indonesia, saya akan menjelaskan sedikit apa itu UTS. Apa sih UTS?
Menurut teman saya, namanya Choirul Anas Hadi Putra, dia kuliah di jurusan Hukum di universitas yang sama, dia di dalam blognya menyampaikan jika UTS itu yaa Ujian Tengah Semester dengan slogan Ujian Tetap Serius, bukan seperti yang sering disampaikan tidak sedikit orang, yaitu dengan slogan Ujian Tidak Serius (mungkin). Yang menarik adalah, hal semacam ini memang sejatinya penting, karena yang namanya sebuah perspektif yang buruk tentu akan menimbulkan mindset menjadi buruk pula, begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, pemaknaan seperti ini walaupun mungkin hanya sepele sepertinya, namun siapa sangka dapat berdampak besar jika tidak diperhatikan secara serius.
Oke, selanjutnya kembali ke topik, yaitu mengenai review hal menarik yang ditemukan selama UTS. Hal yang saya ingin ceritakan yaitu sebenarnya ini menyangkut diri saya pribadi. Jadi, pada hari itu, Kamis 7 Mei 2015 pukul 10.25, saya mengalami hal yang bagi saya itu unik. Jadi, kronologinya yaitu pada hari itu pukul 10.15, seharusnya saya sudah harus sampai di kelas untuk mengikuti UTS Rancangan Perangkat Lunak yang diampu oleh Bapak Beni Suranto S.T., M.Eng, tetapi saya baru tidak di kelas pukul 10.25. Sehingga dalam artian saya terlambat 10 menit.
Sebelum itu, saya bertemu teman saya yang satu kelas RPL dengan saya di parkiran. Saya waktu itu masih biasa saja, sebelum dia bilang jika dia sudah keluar dari kelas (dalam hal ini sudah selesai mengerjakan UTS RPL). Konyolnya, saya pun masih sedikit bingung, karena mana mungkin secepat itu, jadi saya masih tetap santai menuju ke kelas. Namun, setibanya di tangga, sayapun menjumpa teman-teman saya yang lain yang satu kelas RPL dengan saya, dan mengejutkannya mereka bilang hal yang sama seperti yangdibilang teman saya sebelumnya tadi. Barulah saya percaya, ternyata mereka semua memang benar-benar sudah menyelesaikan UTS mereka.
Sontak saat itu detak jantung mulai berdetak kencang seperti genderang mau perang (seperti lagu, hehe), dan pikiranpun sudah kemana-mana. Setelah sampai di kelas, saya masuk seperti biasa, karena saya pikir baru terlambat 10 menit. Tapi tiba-tiba teman saya yang lain bilang kalau sudah tidak boleh masuk. Sontak pula saya terkejut, dan mereka bilang ada teman sebelumnya juga yang sudah bernegosiasi dengan pengawas, tetapi tetap tidak diperbolehkan. Saya pun langsung ke depan dan bertanya dengan pengawas. Yaa kira-kira seperti ini
Saya : "Mau tanya Bu, ini masih boleh masuk kan?"
Pengawas : "Masuk? Masnya baru saja datang?"
Saya : "Wah iya bu, memang kenapa ya?"
Pengawas : "Loh, coba dilihat jamnya. Sudah tidak boleh masuk karena sudah banyak yang keluar", katanya. Sotak saya pun terkejut kembali.
Saya : "Loh, memang kenapa bu? Bukannya ....(bla bla bla)". Belum selesai bicara, sudah dipotong pembicaraan saya.
Pengawas : "Sudah tidak usah banyak tanya! Langsung saja ke bawah menemui pengurus ujian, tanya apakah masih boleh masuk apa tidak".
Setelah itu, saya pun langsung bergegas ke bawah.
Lanjut nanti lagi, hehe. Kuliah dulu :DD
Referensi :
- http://cahpcreative.blogspot.com/2015/05/pemaknaan-positif-dari-uts-ujian-tengah.html
- http://mind.nmfzone.com/read/43-cerik-cerita-menarik-mengenai-uts-1415-day-3
Thursday, April 16, 2015
Review Paper SNIMed (2012 hal 18)
Kami akan mereview Paper yang dibuat oleh Peneliti yaitu Chanifah Indah Ratnasari :
Dari Pendahuluan paper yang telah dibuat oleh peneliti berjudul “Sistem Berbasis Kasus untuk Penanganan Mahasiswa Bermasalah (Studi Kasus : Teknik Informatika UII)”, maka kami menyimpulkan bahwa bagian Pendahuluan tersebut termasuk ke dalam Pendahuluan jenis General, yaitu terdiri dari domain masalah, masalah, teknologi dan solusi. Namun tidak ditemukan bagian harapan dari paper ini.
- Domain Masalah
Mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam suatu sistem pembelajaran di tingkat Perguruan Tinggi. Dalam menjalankan perannya sebagai Mahasiswa, tentulah terdapat berbagai masalah yang dihadapi mengingat Mahasiswa berasalal dari berbagai latar belakang yang berbeda, suku, adat, budaya, serta lingkungan yang berbeda pula. Perbedaan tersebut menuntut Mahasiswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana Mahasiswa tersebut menuntut ilmu agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Pada umumnya setiap universitas mempunyai dosen pembimbing yang dikhususkan untuk membantu Mahasiswanya dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi guna memperlancar kegiatan akademik. Di Universitas Islam Indonesia (UII), dosen pembimbing tersebut disebut dengan istilah Dosen Pembimbing Akademik (DPA). Sama halnya dengan dosen pembimbing pada umumnya, DPA berperan dalam membantu Mahasiswa yang mengkonsultasikan masalah yang dihadapinya. - Masalah
Akan tetapi, proses pembimbingan tersebut belum terdokumentasi dan terintegrasi dengan baik. Terlebih lagi permasalahan yang dihadapi oleh Mahasiswa beserta solusinya belum disimpan dalam suatu media yang sewaktu-waktu dapat diakses sehingga dapat mempermudah proses pembimbingan dengan kasus permasalahan yang sama atau sejenis. Selain itu orang tua atau wali dari Mahasiswa yang bersangkutan tidak dapat mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi anaknya. Pengetahuan yang berbeda dari setiap DPA juga berpengaruh pada solusi yang diberikan kepada mahasiswa. Sehingga diperlukan seorang ahli di bidang tersebut yang dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa, dalam hal ini yaitu seorang psikolog. - Teknologi
Pada penelitian ini telah dibangun sebuah sistem pendukung keputusan untuk mempermudah proses konsultasi/bimbingan mahasiswa dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) … Berdasarkan metode-metode yang dimiliki sistem pendukung keputusan, metode yang dirasa paling sesuai untuk mengatasi permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah metode penalaran berbasis kasus (Case-Based Reasoning / CBR). - Solusi
Dalam hal penentuan solusi dari permasalahan yang dihadapi mahasiswa (dengan bantuan seorang psikolog), menyimpan proses bimbingan yang dilakukan mahasiswa dengan DPA, menyimpan permasalahan-permasalahan yang dihadapi mahasiswa beserta solusinya, dan membantu orang tua / wali dalam memantau permasalahan yang dialami anaknya.
Dari Pendahuluan paper yang telah dibuat oleh peneliti berjudul “Sistem Berbasis Kasus untuk Penanganan Mahasiswa Bermasalah (Studi Kasus : Teknik Informatika UII)”, maka kami menyimpulkan bahwa bagian Pendahuluan tersebut termasuk ke dalam Pendahuluan jenis General, yaitu terdiri dari domain masalah, masalah, teknologi dan solusi. Namun tidak ditemukan bagian harapan dari paper ini.
Review Paper SNIMed (2012 halaman 62)
Domain Masalah: Dewasa ini penggunaan sistem berbasi jaringan semakin banyak dikembangkan untuk aplikasi telemedicine. terutama di Indonesia yang memiliki daerah yang sangat luas, perkembangan di bidang ini dituntut untuk terus dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan.
Salah satu pemanfaatan jaringan adalah, teknologi web services. Web services menggunakan standar yang tidak terikat pada platform (platform-neutral) dan tidak terikat pada bahasa pemrograman yang digunakan (language-neutral) [1] [2]. Dengan demikian, web services memudahkan beberapa aplikasi atau komponennya untuk saling berhubungan dengan aplikasi lain dalam sebuah organisasi maupun di luar organisasi.
Di lain pihak, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, perkembangan pengolahan citra medis juga semakin pesat. hal ini dapat dilihat dengan banyaknya aplikasi yang dikembangkan untuk pemrosesan hasil citra medis dari perlatan kesehatan seperti Computed Temography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Temography (PET) dan sistem x-ray [3]. Dengan aplikasi pengolahan citra medis, data citra medis dapat divisualisasikan dan dianalisis untuk keperluan diagnostik.
Salah satu pemanfaatan jaringan adalah, teknologi web services. Web services menggunakan standar yang tidak terikat pada platform (platform-neutral) dan tidak terikat pada bahasa pemrograman yang digunakan (language-neutral) [1] [2]. Dengan demikian, web services memudahkan beberapa aplikasi atau komponennya untuk saling berhubungan dengan aplikasi lain dalam sebuah organisasi maupun di luar organisasi.
Di lain pihak, seiring dengan perkembangan teknologi kedokteran, perkembangan pengolahan citra medis juga semakin pesat. hal ini dapat dilihat dengan banyaknya aplikasi yang dikembangkan untuk pemrosesan hasil citra medis dari perlatan kesehatan seperti Computed Temography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Temography (PET) dan sistem x-ray [3]. Dengan aplikasi pengolahan citra medis, data citra medis dapat divisualisasikan dan dianalisis untuk keperluan diagnostik.
Masalah : Namun untuk melakukan hal tersebut, dibutuhkan infrastuktur peralatan komputer standalone dengan kemampuan dan kualifikasi yang tinggi yang mampu melakukan pemrosesan citra dengan cepat.
Teknologi : Computed Temography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Temography (PET), sistem x-ray, web services.
Teknologi sebagai solusi : Topik yang diangkat pada penelitian ini adalah perancangan pengolahan citra medis berbasis web service.
Harapan : Berbeda dengan aplikasi standalone,
sistem yang dirancang dapat digunakan secara jarak jauh, dapat
digunakan oleh banyak pengguna sehingga dapat mengurangi biaya dalam
pengadaan infrastruktur hardware berkemampuan tinggi yang dibutuhkan
dalam pengolahan citra medis.
Sistem yang dirancang dapat bekerja di berbagai macam platform dengan grafis antar muka berbasis web dan dibangun dengan menggunakan teknologi web services.
Sistem yang dirancang dapat bekerja di berbagai macam platform dengan grafis antar muka berbasis web dan dibangun dengan menggunakan teknologi web services.
Review Paper SNIMed (2012 Hal 44)
Bismillahirrahmanirrahim..
Kami akan mereview paper yang berjudul " Business Intelegence Untuk Instansi Pelayanan Kesehatan: Manfaat dan Peluangnya di Indonesia " oleh Nurul Bahiyah, Rr. Hajar Puji Sejati
Analisis Pendahuluan
1. Domain Masalah :
( Paragraf Pertama ) Pertumbuhan rumah sakit dan tenaga medis di Indonesia sangat tinggi. Namun sangat disayangkan, petumbuhan itu tidak diimbangi oleh kompetisi yang kuat dan kompetis kualitas (Thabrany, 2011).
(Paragraf Kedua) Keinginan masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar negeri masih sangat tinggi. Hal itu dikarenakan masyarakat ingin mendapatkan pelayanan terbaik. Masyarakat lebih memilih berobat ke Malaysia, Singapura, dan berbagai negara tetangga.
2. Masalah :
(Paragraf Kedua) Hal ini disebabkan masih rendahnya pelayanan terhadap pasien di rumah sakit yang ada di Indonesia. Pelayanan di rumah sakit di luar negeri lebih profesional daripada rumah sakit- rumah sakit yang ada di Indonesia. Ditandai banyak keluhan-keluhan masyarakat tentang pelayanan kesehatan di Indonesia, walaupun ada beberapa rumah sakit yang sudah bagus dalam pelayanan pasien, mutu SDM dan peralatan medis namun pelayanan kesehatan di Indonesia belum merata, masih banyak daerah yang kondisi kualitas dan fasilitasnya belum memadai (Tanjung, 2010).
(Paragraf Ketiga) Setiap instansi kesehatan tidak terkecuali rumah sakit, berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama pelayanan kesehatan pasien. Kualitas pelayanan kesehatan sendiri adalah yang menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula kualitas pelayanan kesehatan.
3. Teknologi :
(Paragraf Keempat) Teknologi Informasi merupakan salah satu alat untuk dapat meningkatkan performa dan kinerja perusahaan dan merupakan salah satu keunggulan untuk memenangkan persaingan.
4. Teknologi menjadi solusi masalah :
(Paragraf Keempat, Kalimat Kedua) Salah satu teknologi yang dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pasien dan dapat meningkatkan kinerja organisasi adalah Business Intellegence. Hasil survey Businessweek (Majalah bisnis mingguan terbitan Blommberg 1, New York) membuktikan bahwa Business Intelligence di industri kesehatan dapat mendukung keputusan di tingkat manajemen, menghemat biaya dan juga dapat meningkatkan pelayanan medis.
(Paragraf Kelima, Kalimat Pertama) Selain pelayanan yang baik kepada pasien, kesejahteraan masyarakat untuk memperoleh kesehatan yang lebih baik juga dapat diupayakan dari pencegahan penyakit.
5. Harapan :
(Paragraf Kelima, Kalimat Kedua) Jika pemerintah dan instansi kesehatan melakukan upaya ini, maka lambat laun akan menciptakan terwujudnya kehidupan yang lebih baik.
Review Paper SNIMed (2012 halaman 50)
by : Aprilia Ruh Sufiati & Dewi Sri M.
Penulis akan me-review Paper dengan judul Model Sistem Pendukung Keputusan Untuk Diagnosis Penyakit Anak Dengan Gejala Demam Menggunakan Naive Bayesian Classification.
Paper ini menggunakan pola pendahuluan "Low Level", dengan rincian sebagai berikut :
Penulis akan me-review Paper dengan judul Model Sistem Pendukung Keputusan Untuk Diagnosis Penyakit Anak Dengan Gejala Demam Menggunakan Naive Bayesian Classification.
Paper ini menggunakan pola pendahuluan "Low Level", dengan rincian sebagai berikut :
- Domain Masalah : Demam atau seringkali dikenal dengan istilah panas badan merupakan gejala yang umumnya muncul ketika seseorang merasa kurang enak badan. Bahkan hampir semua penyakit yang disebabkan oleh virus atau bakteri umumnya ditandai dengan gejala demam. Hal ini juga didukung oleh kondisi tertentu seperti adanya musim pancaroba dan perubahan kualitas lingkungan pemukiman. Gejala demam yang timbul begitu mirip antara satu penyakit dengan penyakit yang lainnya sehingga diperlukan adanya diagnosa yang akurat serta dukungan pemeriksaan laboratorium untuk memutuskan jenis penyakit yang dialami oleh pasien (Sudayasa, 2010).
- Masalah : Miripnya gejala dan adanya suatu gejala yang menyertai beberapa penyakit yang berbeda menyebabkan sulitnya diagnosa awal penyakit.
- Teknologi : Metode Sistem Pendukung Keputusan dengan menggunakan Naive Bayesian Classification.
- Teknologi -> Masalah (Solusi) : Untuk mengakomodasi adanya gejala yang kurang lengkap, model keputusan juga disertai dengan penanganan ketidakpastian dengan metode Naive Bayesian Classification (NBC)
- Harapan : Kontribusi utama dari penelitian ini adalah membantu tugas dokter dalam melakukan diagnosis awalpenyakit yang disebabkan oleh demam terutama yang dialami oleh anak anak.
Tuesday, April 14, 2015
Referensi Pemrograman Pascal
Inggriani Liem (1999). Diktat Contoh Program Kecil dalam Bahasa Pascal. ITB: Bandung.
Tim Olimpiade Komputer (2004). TOKI Handbook. TOKI Biro: Jakarta.
Tim Olimpiade Komputer (2004). TOKI Handbook. TOKI Biro: Jakarta.
Sunday, April 5, 2015
Soal Pemrograman: PetiKemas
Prolog
Pak Uwi
membuka bisnis pergudangan. Ia menyediakan sebuah gudang yang luas untuk
pelanggannya bisa menyimpan peti kemas yang banyak, syaratnya luas peti kemas
harus sama dan tinggi tidak lebih dari tinggi gudang. Dengan demikian, ia dapat
menyusun peti kemas tersebut dengan rapi. Ia juga dapat menumpuk peti kemas tersebut
agar mengurangi luas gudang yang digunakan. Peti kemas ditumpuk di atas peti
kemas yang lain selama jumlah tingginya tidak melebih tinggi gudang sehingga
jumlah luas yang digunakan seminimal mungkin. Bantulah Pak Uwi untuk menghitung
luas gudang minimal yang diperlukan untuk menyimpan sejumlah peti kemas yang ada.
Input
Baris pertama menunjukkan jumlah peti kemas
yang datang (n).
Baris kedua hingga n+1 menjukkan tinggi
masing-masing peti kemas sesuai kedatangan.
Baris terakhir menujukkan tinggi gudang.
Constraint: peti kemas dipastikan tidak akan ada yang
lebih tinggi dari gudang dan semua nilai masukan adalah bilangan integer
positif.
Output
Terdiri dari
sebuah bilangan yang menunjukkan jumlah tumpukkan yang diperlukan agar semua
peti kemas dapat masuk ke dalam gudang dengan luas minimum yang digunakan. Peti
kemas harus dimasukkan secara terurut sesuai kedatangan (tidak boleh diacak).
Contoh Input
7
3
3
3
6
4
9
3
10
|
Contoh Output
4
|
Keterangan
Input
terdiri dari 7 peti kemas dengan tinggi gudang 10.
Maka
tumpukan minimum yang bisa dilakukan adalah 4, yaitu:
- Tumpukan pertama: Peti kemas 1, 2 dan 3; dengan tinggi 3 + 3 + 3
- Tumpukan kedua: Peti kemas 4 dan 5; dengan tinggi 6 + 4
- Tumpukan ketiga: Peti kemas 6 saja; dengan tinggi 9
- Tumpukan keempat: Peti kemas 7 saja; dengan tinggi 3
Resume tentang Siaga Bencana (3)
by Rahmad Subekti
Indonesia
merupakan Negara dengan tingkat rawan bencana alam tinggi. Tercatat, dari 2.866
kejadian di benua Asia, 257 kejadian terjadi di Indonesia. Tingkat kegempaan di
Indonesia 10 kali lipat daripada di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan
Indonesia merupakan negara yang terdapat pada pertemuan lempeng-lempeng bumi
seperti lempeng Euro-Asia di utara, lempeng
Indo-Australia di selatan, serta lempeng Filipina dan Samudera Pasifik di
timur. Namun, tingginya tingkat kerawanan bencana alam tidak sebanding dengan
pengetahuan masyarakat tentang ilmu pengetahuan siaga bencana alam. Sehingga
jumlah korban yang diakibatkan oleh bencana alam sangat banyak, kebanyakan
korbannya adalah wanita dan anak-anak yang mana mereka belum mengerti tentang
pengetahuan dan sikap yang harus dilakukan ketika tengah terjadi bencana alam.
Oleh karena itu diperlukan kurikulum pendidikan guna memberikan pengetahuan
tanggap bencana.Hyogo Framework
kurikulum siaga bencana diprioritaskan, yaitu Priority for Action 3: Use
knowledge, innovation and education to build a cultureof safety and resilience
at all levels.
Penelitian
ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa
beserta orangtua sebelum dan sesudah menerima materi Siaga Bencana. Diharapkan
penelitian ini mampu memberikan kesadaran dan ilmu pengetahuan tentang tanggap
bencana. Pelaksanaan program Siaga Bencana akan diberikan kepada Guru dan
siswa-siswa sekolah, karena gempa bisa saja terjadi ketika berada di lingkungan
sekolah, yaitu ketika siswa-siswa jauh dari pengawasan orangtua mereka.
Pendekatan
masalah yang digunakan berupa manajemen risiko bencana, bertujuan untuk
mengurangi dampak negatif akibat bencana alam, baik harta maupun nyawa.
Pendekatan yang selanjutnya adalah pendekatan melalui pendidikan pengurangan
risiko bencana, bertujuan untuk mengurangi terjadinya bencana (seperti
perlindungan terhadap banjir melalui program pengerukan sungai) atau
meningkatkan kemampuan komunitas dalam merespon kedaruratan. Pendidikan tidak
hanya bisa diberikan secara formal, namun juga bisa secara informal. Melalui
komunitas-komunitas, berbagi pengalaman, serta menggunakan teknologi dapat
memberikan ilmu kepada masyarakat.
Penelitian
deskriptif dilakukan dengan tujuan mendapatkan gambaran tentang jenis jenis
variabel tanpa melakukan perbandingan atau menghubungkan antar variabel.
Sehingga, dibutuhkan penelitian lapangan yang menggunakan 2 metode servey,
yaitu descriptive survey dan explanatory survey. Penelitian dilakukan
di SDN Cirateun dan SDN 2 Padasuka Kab. Bandung.
Hasil
dari observasi yang dilakukan terhadap siswa-siswa kedua SD tersebut menerang
bahwa meskipun siswa SD kelas 3 mendapatkan materi SAINS tentang bencana alam,
namun mereka tidak mendapatkan materi siaga bencana. Rata-rata siswa ketika
pre-test dan post test nilainya tidak
begitu besar, namun ketika praktek mereka dapat melaksanakannya dengan baik.
Serta mereka mau membagi ilmunya kepada orang lain, khususnya orangtua mereka
sendiri. Observasi juga dilakukan terhadap orangtua siswa. Dari hasil observasi
tersebut, orangtua memiliki pengetahuan terhadap kegempaan dengan baik, tapi
tidak untuk tindakan tanggap bencana.
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.
Resume tentang Siaga Bencana (2)
by Amanda Lailatul Fadhilah
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia. Lokasi Indonesia yang demikian menjadikan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam tinggi, seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi masalah bagi masyarakat, utamanya masyarakat yang tinggal di daerah-daerah rawan bencana alam. Ketidaktahuan masyarakat akan cara penyelamatan diri dari bencana alam yang datang secara tiba-tiba, khususnya gempa bumi menjadi salah satu faktor banyaknya korban jiwa dan mendapat kerugian materi.
Bencana tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat dikurangi dampak negatif atau risiko bencananya. Oleh karena itu, perlunya manajemen risiko bencana guna mengelola bencana, mulai dari tindakan persiapan sebelum bencana terjadi, dukungan, dan membangun kembali masyarakat saat bencana terjadi. Konsep pengelolaan bencana telah mengalami pergeseran paradigma, dari pandangan konvensional kemudian berkembang menjadi paradigma mitigasi, paradigma pembangunan dan paradigma pengurangan risiko. Kemudian pentingnya untuk diselenggarakannya pendidikan pengurangan resiko bencana guna menanamkan pengetahuan dan kearifan lokal untuk melindungi dari bahaya.alam. Terdapat perbedaan yang mendasar bagi anak-anak yang mengikuti dan tidak mengikuti pendidikan tanggap bencana. Anak-anak yang tidak mengikuti cenderung lebih merasa takut untuk memikirkan atau berbicara seputar bencana. Pendidikan ini tidak terbatas hanya pada pendidikan formal di sekolah tetapi dapat disampaikan melalui banyak cara.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Krishna S. Pribadi dan Ayu Krishna Yuliawati dilakukan dengan metode survey. Implementasinya dengan memberikan materi gempa bumi untuk siswa kelas 2 dan kelas 3 pada dua sekolah dasar yang berbeda selama kurang dari 6 bulan. Untuk pengujian pemahaman terhadap siswa dilakukan pretest dan post test serta test performance yaitu tes tindakan darurat ketika bencana terjadi. Hasil dari penelitian pendidikan bencana yang dilakukan, terlihat adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi bencana dan tindak-tanggap darurat bencana gempa bumi. Namun masih ada beberapa anak yang masih merasa kesulitan untuk memahami tentang materi gempa bumi. Walaupun ada beberapa siswa kelas 3 SD yang hasil tesnya masih belum mencukupi, namun ketika diminta test performance mereka sudah bisa menyelamatkan diri dengan benar. Peneliti juga melakukan survey terhadap orangtua, agar siswa dapat memahami pendidikan siaga bencana dengan baik tentunya tidak lepas dari dukungan orang tua. Oleh karena itu, Orangtua siswa juga memiliki peran aktif dalam mendorong siswa untuk mempelajari materi pendidikan siaga bencana.
Bencana tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat dikurangi dampak negatif atau risiko bencananya. Oleh karena itu, perlunya manajemen risiko bencana guna mengelola bencana, mulai dari tindakan persiapan sebelum bencana terjadi, dukungan, dan membangun kembali masyarakat saat bencana terjadi. Konsep pengelolaan bencana telah mengalami pergeseran paradigma, dari pandangan konvensional kemudian berkembang menjadi paradigma mitigasi, paradigma pembangunan dan paradigma pengurangan risiko. Kemudian pentingnya untuk diselenggarakannya pendidikan pengurangan resiko bencana guna menanamkan pengetahuan dan kearifan lokal untuk melindungi dari bahaya.alam. Terdapat perbedaan yang mendasar bagi anak-anak yang mengikuti dan tidak mengikuti pendidikan tanggap bencana. Anak-anak yang tidak mengikuti cenderung lebih merasa takut untuk memikirkan atau berbicara seputar bencana. Pendidikan ini tidak terbatas hanya pada pendidikan formal di sekolah tetapi dapat disampaikan melalui banyak cara.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Krishna S. Pribadi dan Ayu Krishna Yuliawati dilakukan dengan metode survey. Implementasinya dengan memberikan materi gempa bumi untuk siswa kelas 2 dan kelas 3 pada dua sekolah dasar yang berbeda selama kurang dari 6 bulan. Untuk pengujian pemahaman terhadap siswa dilakukan pretest dan post test serta test performance yaitu tes tindakan darurat ketika bencana terjadi. Hasil dari penelitian pendidikan bencana yang dilakukan, terlihat adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi bencana dan tindak-tanggap darurat bencana gempa bumi. Namun masih ada beberapa anak yang masih merasa kesulitan untuk memahami tentang materi gempa bumi. Walaupun ada beberapa siswa kelas 3 SD yang hasil tesnya masih belum mencukupi, namun ketika diminta test performance mereka sudah bisa menyelamatkan diri dengan benar. Peneliti juga melakukan survey terhadap orangtua, agar siswa dapat memahami pendidikan siaga bencana dengan baik tentunya tidak lepas dari dukungan orang tua. Oleh karena itu, Orangtua siswa juga memiliki peran aktif dalam mendorong siswa untuk mempelajari materi pendidikan siaga bencana.
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.
Resume tentang Siaga Bencana (1)
by Fadila Aulia Pritami
Indonesia
merupakam negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik
dunia, yaitu Euro-Asia di bagian Utara, lempeng Indo-Australia di bagian
Selatan, lempeng Filipina dan Samudera Hindia di bagian Timur sehingga menjadi
negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam tinggi seperti letusan
gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan sebagainya.
Beberapa
faktor penyebab utama timbulnya banyak korban akibat bencana gempa adalah
karena kurangnyapengetahuan dan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi
bencana tersebut.Pengetahuan mengenai penguranganrisiko bencana belum masuk ke
dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Padahal 113 negara lain yang
sudahmemasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah diantaranya
adalah Bangladesh, Iran, India, Mongolia, Filipina, Turki, dan Tonga.
Berdasarkan Hyogo Framework yang disusun oleh PBB maka pendidikan siaga bencana
merupakan prioritas, yakni Priority for Action 3: Use knowledge, innovation
and education to build a cultureof safety and resilience at all levels.
Siaga
Bencana Gempa Bumi perlu diajarkan kepada anak-anak sekolahyang didalamnya
mencakup bagaimana menyelamatkan diri mereka saat bencana mengancam dan
menghindarikecelakaan. Masyarakat Indonesia kurang mengerti apa yang harus
dilakukan ketika terjadi bencana gempa untuk mengurangi kerugian jiwa dan
benda. Berdasarkan hasil studi, bangunan sekolah dasar umumnya dibuat dengan
kurang memperhatikan kaidah dasarketahanan bangunan terhadap gempa bumi, sehingga
apabila terjadi gempa bumi maka bangunan sekolah dapatroboh dan menimpa siswa.
Korban meninggal dan luka-luka lebih sering disebabkan karena tertimpa
reruntuhan bangunan dan karena situasi panik. Maka, perlu diadakan penelitian untuk
meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kewaspadaan (awareness)
komunitas sekolah dasar terhadap bahaya gempa bumi melalui Pendidikan Siaga
Bencana Gempa Bumiuntuk sekolah dasar.Pelaksanaan program akan bermanfaat bagi
komunitas sekolahdalammengantisipasi bahaya bencana gempa bumi.
Pada
kegiatan penelitian ini SDN Cirateun dan SDN Padasuka 2 Kab Bandung telah diberikan materi
Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi dalam bentuk modul untuk Guru, selain itu diberikan
materi-materi Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi kepada siswa-siswa kelas 2
dan3 SD juga terhadap orang tua siswa.Siswa sangat antusias untuk belajar
mengenai siaga gempa bumi karena kegiatan pembelajarannya menarik terdiri dari
serangkaian kegiatan yang memerlukan partisipasi aktif siswa, seperti kegiatan
identifikasidaerah yaitu mengelilingi sekolah dan kelas sambil membuatdenah. Dalam
memahami fenomena gempa bumi, siswa dan guru melakukan percobaan dengan
menggunakanroti ibarat lapisan bumi dan saat latihan siaga gempa (earthquake drill) siswa bersama guruberlatih
masuk ke dalam kolong meja, berbaris dan keluar ke tempat evakuasi.Kemudian, peneliti
mengkonfirmasikan kepadaorang tua mereka, bahwa setelah memperoleh pendidikan
siaga bencana, siswa menceritakanpengetahuan dan kegiatan mereka dengan
keluarga di rumah.
Hasil
penelitian mengenai pendidikan risiko bencanagempa bumi yaitu bahwa siswa yang
memperoleh pendidikan siaga bencana gempa bumi memiliki peningkatanpengetahuan
mengenai fenomena gempa bumi, tindakan mitigasi dan tanggap darurat. Mereka
memilikipersepsi realistik terhadap kemungkinan terjadinya bahaya. Selain itu,
siswa juga mampu berperan aktif dalam untuk memberikan informasi terhadap
keluarganya masing-masing.
Krishna S. Pribadi, Ayu Krishna Yuliawati. (2009). Pendidikan Siaga Bencana Gempa Bumi sebagai Upaya Meningkatkan Keselamatan Siswa. Jurnal Abmas, Tahun 9 Nomor 9, Bandung.
Subscribe to:
Comments (Atom)